Segenggam Asa si Anak Jalanan (cerpen)
Oleh: Yanuar Aris Budiarto
Cuaca siang ini rasanya lebih panas dari biasanya. Tapi, sebagai anak jalanan yang kerjanya memang berlalu-lalang di bawah traffic light sambil menyanyikan lagu demi mengais uang receh, aku harus berani mengambil risiko ini. Bertahan di atas lantai aspal panas dengan terik matahari sebagai atap. Bersahabat dengan polusi udara.
Profesiku sebagai pengamen jalanan sudah berjalan kurang lebih lima tahun. Untuk ukuran karir musisi jalanan, aku mungkin sudah bisa dianggap profesional. Tapi, apalah artinya duniaku bila dibandingkan dengan dunia musik yang sesungguhnya. Tentu, aku hanya seekor kutu kupret yang tidak bisa apa-apa. Lha wong penyanyi dan band yang sudah sangat beken di Indonesia saja tidak laku kalau dibawa ke luar negeri, apalagi aku.
Tapi, aku merasa profesiku sebagai pengamen jalanan ini tidak jauh berbeda dengan band-band yang biasa nongol di TV. Toh, pada dasarnya mereka juga sama-sama cari uang. Selebihnya, popularitas. Cuma bedanya, aku tidak punya modal, cara, dan gaya seperti mereka.
Mereka bermain dengan alat musik yang berkualitas, dipromosikan melalui manajemen yang berpengalaman, dan tampil dengan gaya dan busana yang elegan. Suatu hal itu tidak terjadi pada diriku. Intinya, jika dibandingkan dengan mereka, aku ini cuma penyanyi kelas amatir.
Meski begitu, aku tidak malu dengan profesi ini. Toh, rezeki yang kudapat kucari dengan cara yang halal. Aku bahkan merasa lebih mulia daripada pejabat berdasi yang duduk manis dalam gedung ber-AC itu. Mengaku sebagai wakil rakyat, tapi kegiatannya sebatas menikmati uang rakyat saja.
Parahnya, mereka seperti tidak pernah punya rasa malu terhadap publik. Sudah dipenjara, tapi masih bisa tertawa-tawa seakan tak berdosa. Huh, sungguh manusia tak bermoral!!
Aku banyak tahu begini karena niat membaca. Ya. Berita di koran harian yang biasa terpasang di sudut taman kota itu tak pernah luput kubaca. Maka, tak heran kalau aku bisa mengikuti perkembangan dunia. Jadi, jangan salah sangka. Meski gembel begini, aku tetap memiliki naluri membaca yang tinggi. Mungkin dalam jajaran anak jalanan di kota, bahkan di negeri ini, hanya aku yang peduli dengan aktivitas membaca. Apalagi, mengamati dilema politik negeri.
Kalau ditanya tentang dalang di balik semua sikapku itu, bundalah jawabannya. Beliau menanamkan budaya gemar membaca padaku sejak kecil. Dari dulu, aku memang hobi membaca. Buku-buku di rumah juga cukup banyak. Tapi, tentu tak sebanyak anak-anak sekolah pada umumnya. Aku hanya punya 12 buku. Ada dongeng Si Kancil, kisah para nabi, buku trik-trik sulap sederhana, trik bermain gitar, dan beberapa lainnya.
Dari sekian buku itu, hanya dua yang tersisa. Buku tentang trik memainkan gitar dan buku tentang cara membaca dan menulis fiksi yang baik. Yang lainnya, terpaksa harus dijual bersama kardus-kardus bekas untuk membeli beras.
Jika mengingat itu semua, rasanya seperti kembali ke kehidupanku yang dulu. Kehidupan sekolah saat aku bisa menikmati indahnya belajar dan bermain bersama. Meski hanya sampai kelas dua SMP, aku benar-benar menikmati masa itu. Apalagi, dulu aku termasuk salah satu siswa yang cukup berprestasi. Aku selalu masuk jajaran sepuluh besar terbaik.
Aku juga sering memenangi lomba-lomba, baik di dalam maupun luar sekolah. Sungguh bahagia hatiku kala aku berhasil meraih juara dan mengharumkan nama sekolah. Apalagi, bisa mempersembahkan berbagai piala yang kuperoleh. Sayang, kebahagiaan itu meleleh setelah aku di-drop out karena tak sanggup membayar tunggakan SPP.
Sialnya, prestasi yang kuperoleh tak membuat pihak sekolah membantu. Yang lebih menyedihkan, aku tak diberi kesempatan untuk mengajukan beasiswa. Sejak itulah, aku tak percaya lagi pada prestasi. Bagiku, prestasi hanyalah kebahagiaan semu karena nggak bisa menjamin kesuksesan seseorang.
Balada Anak Jalanan
« Thread Started on Jul 6, 2008, 3:31pm »
________________________________________
Bajunya compang camping. Tangannya hitam diterpa sinar mentari yang begitu panas siang itu. Ia terbaring di depan sebuah ruang ATM BCA. Wajahnya lusuh.
Matanya terpejam. Namun tangan kanannya sesekali menggenggam perut yang berada dibalik baju putih lusuh itu. Mulutnya meringis sambil sesekali mengatakan," lapar. Lapar."
Ku dekati anak yang mungkin berusia sekitar 7 tahun itu. Ku beri ia sebungkus roti yang baru saja aku beli di toko samping ruang ATM.
Ia menatap roti di tangan kananku. Tapi ia tidak tertarik sepertinya. Aku heran, pikirku pun berkata, masa' sih anak ini tidak mau roti berisi coklat ini.
Rotinya sih memang berharga murah. Tapi kan aku masih punya 5 bungkus lagi dalam plastik hitam di tangan kiri ku.
Ku semakin mendekati anak lelaki itu. Begitu dekat. Hingga aku bisa melihat bola matanya yang ternyata berwarna coklat.
Ku sodorkan sebungkus roti yang ada di tangan kananku berikut lima roti lain di tangan kiriku.
Ia tidak menolak, tidak juga menerima. Dipandanginya saja roti yang ada di tanganku. Kemudian ia menatap wajahku. Pandangan kami pun beradu.
"Ayo ambil. Ini untukmu," kataku meyakinkan dirinya.
Tapi, ia hanya terdiam. Ia pun bangun dari posisinya berbaring. Kemudian ia duduk menyandar ke dinding ruang ATM itu.
"Ada apa," tanyaku pada lelaki yang akhirnya ku ketahui bernama Rizal itu.
Ia pun menjawab, "Berapa saya harus membayar roti-roti itu." Jawaban yang berupa pertanyaan. Pertanyaan yang menyontakkan hatiku. Pertanyaan yang membelalakkan mataku.
"Maksud kamu," tanyaku lagi.
"Jika sebungkus roti berharga Rp 1000. Jika ada lima roti, berarti saya harus bayar Rp 5000," jawabnya. Jawaban yang semakin membuat hatiku bersontak kaget.
"Ini untukmu. Aku yang ngasih. Bukan untuk kamu beli," ujarku seraya menyodorkan kedua tanganku padanya.
"Saya memang anak jalanan. Tapi, saya bukan pengemis. Saya masih bisa bekerja dengan membersihkan sepatu," katanya seraya menunjukkan sebuah peti kecil berukuran 15 x 15 centimeter itu.
Aku tidak melihat peti itu awalnya. Karena peti itu terletak di belakang tubuh mungilnya. Jadi, mana ku tau kalau dia ternyata tukang semir sepatu.
"Siapapun kamu dan apapun kerjaanmu, akut etap ingin memberi kamu roti-roti ini," aku pun tak mau kalah untuk memberinya roti-roti itu.
"Tapi, kamu akan membebani aku. Aku tak punya uang untuk membayarnya. Aku juga tidak mau mengambilnya karena gratis," sekali lagi jawaban yang membelalakkan mataku.
Akhirnya, aku pun menyerah. Aku hargai prinsip anak jalanan itu. Tapi, aku tetap ingin roti-roti itu untuknya.
"Gini saja. Kamu ambil roti ini. Tapi, bayarannya kamu bersihkan sepatu ku," akhirnya ku tegakan juga diri ini menerima prinsip keras anak jalanan itu.
"Ok..." anak itu setuju. Matanya berbinar. Ia pun meminaku untuk melepas sepatu hitam bucherri ku.
Ia pun membuka peti hidup yang ada di depannya. d**eluarkannya semir sepatu bermerek Kiwi. Dioleskannya pada sepatu ku. Tangannya pun menari membersihkan sepatuku dengan sikat kecil berwarna hitam itu.
Dan, seketika, sepatuku mengkilap. Sebagai bayarannya, ku berikan roti-roti itu. Ia tersenyum. Diraihnya roti-roti itu.
d**eluarkannya sebungkus roti dari plastik hitam. Roti tersebut diberikannya padaku. Aku menolak. Bagaimana mungkin aku mengambil barang yang telah aku berikan pada orang lain.
"Ambillah. Sebagai lambang persahabatan," katanya seraya mengulaskan senyum di sudut bibir munglinya.
Aku pun mengambil roti itu. Dan tersenyum. Senyum yang paling indah mungkin.
Anak itu berlari ke teman-temannya. Diberikannya roti itu pada teman-temannya. AKhirnya ia hanya punya sebungkus roti saja di tangannya.
Ia pun menyeberangi jalan, jalan di seberang posisiku. Ku layangkan pandang padanya. Setibanya di tepi jalan seberang itu, ia memalingkan wajahnya.
Ia tersenyum. Senyum yang sangat indah. Sangat indah. AKu terpesona pada senyum itu.
Ku lihat ia membuka roti yang kuberi itu. Di gigitnya. Sementara matanya masih menatapku. Tak jauh jarak kami, sekitar lima meter saja.
Sebuah mobil sedan berwarna putih melintas di antara kami. Keterpesonaanku terganggu oleh mobil itu. Setelah mobil itu pergi, anak jalanan itu sudah tidak ada lagi.
AKu mencari-cari. Ku celingak celingukkan kpalaku. Tapi kemana anak itu pergi. Bahkan suaranyapun tak ku dengarkan lagi.
Kemana kah ia. Kemana kah juga teman-temannya. AKu pun menunduk. Ku tatap sebngkus roti yang ada di tanganku.
Entah kenapa, aku jadi rindu pada anak jalanan itu. Ku rindu pada senyumnya yang mempesonaku. Ku rindu pada mata coklatnya itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar